Ikan Mas Yang Tidak Dimasak Tapi Enak Dari Sumatra

Menarik, dikala sejumlah menu yang ditulis di standing banner ukuran 1 x 2dari jual stand banner meter itu yakni masakan khas Batak. Mulai dari Naniura, Napinadar, Naniarsik, Ikan Panggang dan Daun Ubi Tumbuk. Membaca menu-menu itu saja, air liur telah tersulut. Menjelang rumah makan khas Batak ini, terasa asri. Sentuhan alamiah nampak mulai dari meja dan tempat duduk-tempat duduknya yang terbuat dari kayu alam.

Apalagi, letaknya cukup tinggi, pandangan mata dapat lepas ke depan menatap air Danau Toba dihadang bebukitan. Tidak heran, rumah makan ini menjadi alternatif Bupati Samosir yang juga Ketua Lazim Festival Danau Toba 2013, Mangindar Simbolon mengajak tetamu-tamunya untuk bersantap.

Bahan seperti kunyit, jahe, kemiri, kencur, cabe merah, cabe rawit (kalau berkeinginan lebih pedas), bawang merah, bawang putih dan andaliman disangrai hingga layu dan mengeluarkan bebauan harum. Kecuali itu bawang Batak, tomat dan daun selada juga dimasak untuk diciptakan uram. Bumbu yang telah disangrai berikutnya diulek di atas cobekan batu. Segala bahan diulek hingga halus.

Kadang-kadang, berdasarkan Sofia, mengingat waktu dan banyaknya pesanan, segala bahan bumbu mereka blender supaya lebih kencang libas dan kesudahannya lebih halus. Bumbu yang telah libas dan dicampur garam seperlunya lalu dituangkan ke segala komponen ikan mas yang telah diizinkan ‘dimasak’ air asam jungga. Akhir dari cara kerja meracik naniura dengan meletakkan bawang Batak, tomat dan daun selada ke atas ikan, dan ini disebut sebagai uram. “Uram ini juga menambah enaknya rasa naniura,” kata Sofia.

Jadi biar aura badannya konsisten fit, makanya ibu aku senantiasa membuatkan naniura buat bapak aku,” kenang Sofia, permulaan bagaimana ia tahu membikin Naniura, belajar dari sang ibundanya. Kesanggupan Sofia membikin naniura itu mulai diketahui orang semenjak 2005. Saat itu Pemerintah Kecamatan Simanindo, Kabupaten Samosir memintanya untuk ikut serta laga memasak. “Aku bisa jawara pertama ketika itu dengan menu kuliner naniura,” bebernya.

Namanya semakin diketahui piawai meracik naniura, dikala diikutkan kembali laga di tingkat Provinsi Sumatera Utara dan juga meraih prestasi. “Aku membuka usaha kedai nasi Sekapur Sirih ini baru tiga tahun. Dahulu kesanggupan memasak bermacam-macam menu khas Batak, aku berprofesi di salah satu hotel di sini (Desa Tuktuk),” katanya.

Benar saja, kenikmatan naniura hasil racikan Sofia mengena di lidah seorang sahabat yang juga Pimpinan Redaksi Metro Siantar, Pandapotan Siallagan yang kebetulan datang menyaksikan kemeriahan Festival Danau Toba 2013 di Desa Tuktuk Siadong. Panda, sebutan akrabnya, datang membawa sebagian staf dan redaksi Metro Siantar. Mereka dengan lahap menyantap naniura. Sambil mengacungkan jempolnya, Panda mengisyaratkan naniura yang satu ini sedap dan sedap.