Mahasiswa Irak Raih Doktor di UII

Mahasiswa Irak Raih Doktor di UII
Mahasiswa S3 asal Irak, Gailan Hoshi Ali sukses meraih gelar doctor dari Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Ahad (4/11). Dia disuarakan lulus dengan predikat sungguh-sungguh memuaskan dan menjadi doctor pertama yang diluluskan Program Pascasarjana FIAI UII. Pria kelahiran Bagdad 24 November 1954 ini sukses mempertahankan desertasi berjudul ‘Fleksibilitas pada Fiqh Imam Abu Hanifah’ di depan regu penguji yang diketuai Prof H Edy Suandi Hamid. Sedang promotornya, Prof H M Nur Kholis Setiawan dan Prof H Amir Mu’allim.

Baca juga : http://wartakota.tribunnews.com/2018/11/09/membahagiakan-para-siswa-dalam-acara-childrens-day

Dibuktikan Gailan Hoshi Ali, dikala ini umat Islam menghadapi bermacam-macam perubahan peradaban yang menimbulkan bermacam-macam problem. Di satu sisi, umat Islam berkeinginan menegakan prinsip identitas keislaman cocok dengan syariah Illahi. Di sisi lain, umat Islam wajib dapat meniru perubahan peradaban yang kemungkinan besar menyimpang dari syariat Islam. Supaya kedua problem ini dapat sinergi umat Islam diharuskan untuk mencari sebuah cara hidup yang cocok dengan zamannya.

Dosen tetamu Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini mengamati fikih Imam Abu Hanifah memiliki aspek fleksibilitas kepada situasi umat dikala ini. Fleksibilitas ini dapat menghindarkan perbenturan antar peradaban serta eksploitasi agama Islam oleh tenaga-tenaga global. “Padahal fleksibel, melainkan konsisten dapat meneguhkan kembali prinsip-prinsip keislaman sejati dalam dunia Islam, bagus secara pemikiran ataupun tingkah laku,” kata Gailan yang tinggal di Sydney Australia. Menurut hasil penelitiannya, fikih Abu Hanifah menjaga teks Alquran dan As Sunnah. Artinya, stop berandai-andai bila terdapat teks suci yang secara sanad, signifikan resmi dan menyakinkan.

Kecuali itu, fikih Abu Hanifah mempunyai ciri aktif menjalankan ‘qias’ dengan pertimbangan maslahat atau diketahui dengan perhatian akan roh syariah. Fikih ini juga memiliki wawasan pemikiran luas dan merujuk pada masa depan. Fikih ini sudah diaplikasikan pada bidang jurisprudensial, pendirian akidah dan politik, hak asasi manusia, dan hak perempuan. “Penyebab munculnya fikih Abu Hanifah, di antaranya, lingkungan politik yang pluralis, lingkungan kebiasaan dan etnis yang plural, penyusunan kesadaran fikih dan kebiasaan Imam Abu Hanifah yang luas dan mendalam, independensi financial Imam Abu Hanifah, dan debat-debat berbuah yang timbul dalam bermacam-macam mazhab Islami di bawah dampak fikih Imam Abu Hanifah,” papar bapak empat buah hati ini.

Dikala ini, kata Gailan, fleksibilitas fikih telah berkembang cukup memadahi di Indonesia. Cuma saja, perkembangannya masih terhalang oleh cara pengajaran yang masih memisahkan antara spesialisasi ilmu agama dan spesialisasi ilmu-ilmu kehidupan yang lain. “Adanya pembaruan fikih Islami ini bisa menempatkan ulang umat Islam sebagai Rahmatan Lil’alamin,” ujarnya menandaskan.

 

 

 

Artikel terkait : http://wartakota.tribunnews.com/2018/11/30/intip-serunya-acara-fathers-day-di-saint-monica-jakarta-school